Logo

UPDATE
  • Suara Mahardika - Membangun keseimbangan informasi antara desa-kota di Bali - www.suaramahardika.com - arthadana99@gmail.com
  • Inspiratif, Berkesadaran, Berbudaya dan mengedepankan informasi yang bersifat independen, inspirasi positif dan berlandaskan nilai-nilai budaya Bali.


Aab Jagat dan Pesan Bijak Ida Bethara Batukaru

Oleh : Suara Mahardika | 21 Desember 2016 | Dibaca : 12628 Pengunjung

Aab Jagat dan Pesan Bijak Ida Bethara Batukaru

Sebuah prosesi yang berlangsung di Pura Luhur Batukaru sebagai ungkapan syukur atas anugerahNYA

Surat Terbuka untuk Krama Bali

Oleh : Ki Tambet/ Gusparna Kauhan/ Rah Berry/ Arthadana

Om swastyastu

Siang menjelasng sore tadi sekitar pukul 14:00 WITA, oleh sebuah kegelisahan saya menuju sebuah desa tua di kaki Gunung Batukau atau Gunung Batukaru. Sosok yang saya tuju adalah Jro Kubayan atau penglingsir Pura Luhur Batukaru.

Hari ini adalah rahina Buda Keliwon Ugu, Rabu (21-12-2016) dan sedang berlangsung puncak pujawali di Pura Luhur Petali. Pura ini merupakan salah satu Jajar Kemiri Pura Luhur Batukaru. Sayapun sejatinya punya rencana untuk tangkil ke pura yang berlokasi di Desa Jatiluwih tersebut. Entah, saya akhirnya memilih ke Desa Wongaya Gede, untuk “menghadap” Jro Kubayan Batukaru.

Cuaca di sekitaran Tabanan sangat cerah. Tanpa hambatan yang berarti saya menyusuri jalan menuju kaki Batukaru. Memasuki Desa Wongaya Gede, saya disambut gerimis meski mendung tidak tebal. Tepat di barat Merajan Gede Kubayan, hujan semakin deras dan saya memilih berteduh di sebuah bangunan kecil di jaba merajan tersebut untuk menunggu seorang sahabat saya yang merupakan warga lokal disana. Sahabat saya tersebut saya panggil Mandrak dan saat saya tiba di desa Wongaya Gede ia masih ngayah di Pura Luhur Batukaru. Saya harus menunggunya, karena Mandrak berjanji menemani saya untuk menghadap Jro Kubayan.

Ternyata hujan semakin deras. Saya menggigil kedinginan di bangunan kecil yang mirip pos kamling itu. Seorang kakek-kakek yang saya sangat kenal baik yakni Dasaran Gede Pura Luhur Batukaru yang pulang dari sawahnya melintas didepan saya dan mengajak mampir. Sayapun mengiyakan.

Sambil menikmati sajian kopi panas buatan Mbah Mangku (istri Dasaran Gede Pura Luhur Batukaru), obrolan ringan pun mengalir diantara kami. Termasuk pula obrolan-obrolan terkait dengan keberadaan Pura Luhur Batukaru. Bagi saya, cerita-cerita dari Dasaran Gede Pura Luhur Batukaru ini adalah dongeng jiwa yang bermakna bagi saya. Setidaknya untuk lebih memahami keagungan dan keluhuran Ida Sanghyang Tumuwuh dalam menganugerahkan sumber hidup bagi para damuhNya. Jujur, hal ini bagi saya adalah pengetahuan mahal dan langka yang saya tidak akan dapatkan dari ribuan buku yang dijual bebas di toko-toko buku ataupun tidak saya dapatkan dari sekolah atau kampus manapun.

Sekitar satu jam kemudian, hujan reda meskipun masih gerimis. Bersamaan dengan itu sahabat saya si Mandrak menelpon bahwa posisinya sekarang sudah didepan pintu masuk kediaman Jro Kubayan Batukaru. Saya mohon pamit kepada Dasaran Gede Batukaru untuk menemui Jro Kubayan yang rumahnya berdampingan namun beda pintu masuk.

 

Pawuwus Saat Nunas Bawos

Kurang dari lima menit kemudian saya dan Mandrak sudah tiba di kediaman Jro Kubayan Batukaru. Keramahan khas warga pedesaan di Bali pun menyambut saya. Yakni segelas kopi panas yang disajikan dengan nuansa menyama braya. Yang begini, saat ini mulai menjadi barang mahal di perkotaan. Termasuk pula di kota Tabanan.

Sebelumnya saya mengajak pembaca untuk mengenang peristiwa yang terjadi pada prosesi penyineban pujawali Pura Luhur Batukaru yang berlangsung sekitar tiga bulan lalu.

Dalam prosesi tersebut Ida Bethara Batukaru melalui perantara Dasaran Gede dan dua dasaran Ida lainnya, Ida Bethara Batukaru sedih dan prihatin melihat kondisi para damuhNya khususnya damuh Ida di Bali yang antar sesama semeton Bali gampang bertikai. Pawuwus Ida tersebut memang terjadi secara nyata. Tidak jarang pertikaian antar semeton Bali tersebut berakhir dengan saling bunuh. Pertanyaan saya, apakah karakter luhur orang Bali yang dikenal jujur, polos, ramah, terbuka telah nyalin rupa menjadi karakter yang individualis, mudah curiga dan tertutup? Lalu, apa penyebabnya? Kali Yuga? Pertanyaan saya selanjutnya, begitu angkuhnyakah sebuah tahapan jaman yang begitu teganya menghancurkan tatanan pikir, kata dan prilaku manusia. Padahal disatu sisi, oleh kecerdasan yang dimilikinya manusia mampu menciptakan berbagai alat untuk memudahkannya dalam melakoni hidup dan berkehidupan melalui perkembangan dan kemajuan teknologi.

Kembali kepada keprihatinan Ida Bethara Batukaru melihat kondisi damuhNya khususnya sesama semeton Bali yang mudah tersulut emosi dan bertikai, Ida Bethara kemudian menganugerahkan Tirta Pengingkup dengan tujuan agar semeton Bali mampu memperkuat spirit menyama brayanya. Ini sangat logis, karena tanpa kekuatan menyama braya, tanpa kuatnya kebersamaan sangat mustahil dapat membangun dirinya dan sangat tidak masuk akal bisa melanjutkan tradisi berkehidupannya dalam bingkai Tri Hita Karana.

Selain menganugerahkan Tirta Pengingkup, Ida Bethara Batukaru juga berkenan menganugerahkan pesan agar taksu Bali tetap ajeg. Caranya, pemimpin di Bali segera melakukan yadnya pakelem dipantai Bali secara nyatur. Yakni pada arah utara, selatan, timur, barat dan ditengah Bali. Apakah pesan tersebut sudah terlaksana?

Beberapa malam yang lalu, saya sempat menghubungi seorang pejabat penting di Tabanan melalui BBM dengan tujuan untuk menanyakan terkait pelaksanaan pesan Ida tersebut. Jawabannya, pada tanggal 28 Desember 2016 akan digelar sebuah prosesi di Tanah Lot. Iapun menyebutkan telah berkoordinasi dengan pihak Pemkab Badung. Dengan demikian sudah dua titik yang mungkin segera dilakukan yadnya pakelem sesuai dengan pesan Ida Bethara Batukaru. Titik tersebut bisa disebut mewakili arah tengah (Tabanan) dan arah selatan (Badung). Lalu tiga titik lainnya, anggaplah di timur (Karangasem), utara (Buleleng) dan barat (Jembrana) sudah terlaksana atau setidaknya sudah direncakan pelaksanaannya? Dalam kebodohan saya Pura Luhur Batukaru adalah salah satu khayangan Jagad dan salah satu Padma Buwana Bali. Sebagai khayangan jagad, tentu pemerintah Provinsi Bali memiliki peranan penting sebagai pelaksana dari pawuwus-pawuwus Ida Bethara yang berstana dimasing-masing khayangan jagad. Termasuk pawuwus Ida Bethara Batukaru. Tentunya pula, mengkoordinasikan dengan masing-masing pemerintah kabupaten/ kota di Bali.

 

Dari Sebuah Paranoidisme

Nyatanya, tiga bulan sudah pawuwus itu muncul dan entah apakah pawuwus tersebut sudah terlaksana secara keseluruhan. Yang jelas saya belum mendapat kepastian pawuwus tersebut terlaksana. Kecuali prosesi yadnya yang akan digelar di Tabanan pada tanggal 28 Desember 2016 nanti.

Maaf, beberapa minggu terakhir ini saya menjadi paranoid. Ini bermula dari bencana kecil yang terjadi di Pura Luhur Batukaru sebulan lalu dengan tumbangnya sebuah pohon besar di nistaning mandala pura tersebut. Ini menyebabkan tiga bangunan penunjang di Pura Batukaru mengalami rusak berat dan kerugian material ditaksir sekitar tiga ratus juta rupiah.

Minggu (18-12-2016) saya berkesempatan menyaksikan prosesi Guru Piduka yang berlangsung di Pura Luhur Batukaru terkait dengan peristiwa robohnya pohon tersebut. Baca beritanya di http://suaramahardika.com/index.php/read/2016/12/18/201612180003/Guru-Piduka-di-Pura-Luhur-Batukaru.html.

Pada saat prosesi sedang berlangsung, saya merasakan hembusan angin yang cukup kuat disekitar pura tersebut. Keesokan harinya, saya mendapat kabar dari Mandrak yang memang aktif ngayah di Pura Luhur Batukaru. Kabar tersebut tiada lain, sebuah pohon tumbang lagi didekat Pura Beji Batukaru dan menimpa bangunan dapur. Ya, pohon tumbang ini hanya berselang sehari dari prosesi Guru Piduka atas kejadian pohon tumbang sebulan lalu di pura yang sama. Pada hari itu juga, saya mendapat telepon dari Ketua Pembangunan Pura Luhur Muncaksari (salah satu Jajar Kemiri Pura Luhur Batukaru), bahwa sebuah pohon cepaka tumbang dan menimpa bangunan dapur di khayangan tersebut. Apakah ini sebuah kebetulan atau adakah sesuatu kesalahan krama Bali dalam menata dirinya sebagai krama Bali? Maaf, kalau paranoid saya ini berlebihan.

Keparanoidan saya yang mungkin super berlebihan ini kemudian datang ketika secara tidak sengaja saya membaca sebuah postingan berita yang memuat tentang peringatan 200 tahun Gejer Bali.  “Peringatan 200 tahun Gejer Bali” tersebut bertujuan untuk mengenang kembali peristiwa 200 tahun yang lalu yakni pada tahun 1815 silam. Dalam peringatan tersebut, diungkapkan kisah turun temurun masyarakat dan catatan penting dalam Babab Buleleng atas peristiwa pilu gempa bumi dan banjir hebat yang melanda Singaraja pada tahun 1815 silam. Tentu banyak krama Bali yang tidak sadar atau tidak banyak yang mengetahui dan hirau, bahwa sesungguhnya penduduk Bali hidup di tanah Gempa.

Diceritakan oleh AA. N Sentanu, tanggal 10-12 April 1815 gunung Tambora di Sumbawa meletus hebat, menelan ribuan korban jiwa. Dampaknya mengglobal, dunia mengalami perubahan iklim ekstrim berbulan-bulan. 

Tujuh bulan setelah letusan Tambora, anomali cuaca masih terasa di Bali. Malam Budha Umanis Kulantir, Rabu 22 Nopember 1815, di kawasan Bali utara turun hujan lebat selama tiga hari tak henti-henti. Pada hari yang sama gempa bumi  besar mengguncang Bali utara selam 45 menit. Tanah pengunungan di sekitar Danau Buyan dan Tamblingan longsor. Tanah dan pohon membendung laju air di alur sungai di pegunungan, lalu membentuk kantong-kantong air dan pecah menjadi banjir bandang.  Banjir itu kemudian menyapu ibu kota Buleleng, Singaraja disertai lumpur, batu dan pepohonan.  Bencana ini mengakibatkan 10.523 korban jiwa. Pejabat penting kerajaanpun turut menjadi korban. Peta sejarah Bali utara pun berubah. Peristiwa gempa bumi di Bali utara tesebut dicatat dalam Babad Buleleng dengan sebutan “Gejer Bali”. Peritiwa itu pun dicatat oleh orang Belanda Wichmann pada tahun 1819.

Sejarah  kegempaan Bali juga mencatat di Bali pernah terjadi gempa bumi mematikan pada tahun 1817, 1917, 1976 dan 1979. Dijelaskan gempabumi tersebut juga berpengaruh dengan tekanan magma pada gunung-gunung di jalur ini. Bali dan Nusa Tenggara adalah gugusan pulau yang berada dalam jalur cincin api.

Senada dengan peristiwa peringatan 200 tahun Gejer Bali, sebelumnya saya melalui media online www.suaramahardika.com juga sempat memuat tulisan dari seorang Kandidat Doktor Geologi di Universitas Padjajaran, Bandung yang benama Melky Rondonuwu ST.,MT dengan tulisannya yang berjudul Bali dalam Perspektif Ilmu Kebumian dan tulisannya tersebut bisa dibaca di  http://suaramahardika.com/index.php/read/2016/12/10/201612100002/Bali-dalam-Perspektif- Ilmu-Kebumian.html.

Khusus terhadap peringatan 200 Gejer Bali, saya kemudian tersadar dengan kondisi cuaca di Bali khususnya di Tabanan belakangan ini. Hujan sering datang tidak terduga. Hujan beberapa jam, banyak titik kebanjiran dan tanah longsor. Maaf, tidakkah ini sebuah bencana kecil sebagai isyarat akan terjadi bencana besar seperti halnya Gejer Bali? Terutama ketika tatanan-tananan Bali mulai diabaikan. Termasuk pula ketika mengabaikan pawuwus Ida Bethara Batukaru.

 

Mengembalikan Spirit Kebalian

Selama berdiskusi bertiga antara saya, Mandrak dan Jro Kubayan Batukaru, hujan turun semakin deras. Keparanoid-keparanoidan saya pun semakin mengalir. Terlebih banyak cerita dari Jro Kubayan Batukaru yang menyebutkan bahwa banyak tatanan-tananan Bali kini telah dilupakan oleh krama Bali. Termasuk pula banyak pawuwus-pawuwus atau pesan bijak Ida Bethara Batukaru tidak atau belum terlaksana. Dimana untuk melaksanakan pawuwus-pawuwus tersebut perlu peran dari para pemegang kebijakan di Tabanan ataupun di Bali.

Saya kembali menawarkan sebuah pertanyaan. Yakni apakah romantisme kita terhadap cerita-cerita indah Bali dimasa lampau akan hanya menjadi sebuah dongeng atau babad pengantar tidur bagi generasi-generasi Bali mendatang? Karena keindahan-keindahan tersebut secara perlahan dan karena sebuah pembiaran, dibiarkan menyurut oleh para sentana Bali dengan melupakan tatanan pikir, kata dan prilakunya sebagai manusia Bali. Dan salah satunya dengan mungkin mengabaikan pawuwus-pawuwus Ida Bethara, termasuk pula pawuwus Ida Bethara Batukaru. Atau, keindahan-keindahan yang terhampar di natah tanah Bali adalah sebuah kisah abadi yang dirajut oleh kesadaran manusia Bali untuk tunduk terhadap kesemestaan yang salah satunya kembali kepada tatanan-tatatan hidup yang tervisualisasikan dari ketundukannya terhadap pawuwus Ida Bethara Batukaru. Maaf, dari kebodohan saya, Ida Bethara yang berstana di Batukaru adalah Ida Sanghyang Mahadewa yang dalam bahasa kelokalan disebut dengan Ida Sanghyang Tumuwuh. Beliau merupakan penguasa terhadap segala ciptaNya. Lalu, ketika pesan dari penguasa segala ciptaNYa kemudian dilupakan, diabaikan atau dianggap sudah tidak relevan dengan jaman yang semakin moderen, apakah salah kalau kemudian tatanan hidup manusia Bali mulai tidak seimbang dan terjadi banyak dis-harmonisasi (aab jagad) di Negeri Khayangan ini?

Berbicara tentang banyaknya tatanan hidup di Bali yang tidak lagi sesuai dengan yang telah diwariskan para tetua Bali, Jro Kubayan pun banyak menyimpan cerita. Pada lain kesempatan lain, cerita-cerita tersebut saya akan tulis dan saya mediakan melalui media ini. Yang jelas, dengan gaya bertutur yang polos, Jro Kubayan Batukaru mengajak seluruh komponen masyarakat Bali mengembalikan spirit kebaliannya. Tujuannya tentu : keindahan hidup di Pulau Dewata ini terlestarikan sepanjang masa.

Om shanti, shanti, shanti Om

Om ano badrah kretawo yantu wiswatah.

Semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

 

Tabanan, Buda Keliwon Ugu/ Rabu (21-12-2016), Pukul 22:01 WITA

 

Penulis: bekerja sebagai juru warta yang bebas merdeka. Sedang menempuh "kuliah" di World University, Program Studi Memaknai Anugerah Hidup, Jurusan Penyadaran Diri. Tinggal di Tabanan.

Untuk kritik dan saran tulisan ini, hubungi penulis dengan kontak Hp. 08123934332.


Oleh : Suara Mahardika | 21 Desember 2016 | Dibaca : 12628 Pengunjung


TAGS :




Berita Terkait :

Tabanan, 04 Agustus 2017 08:29
Tabanan Mendulang Prestasi
Kembali Raih Adipura, Bupati Eka Dinobatkan Sebagai KDI TABANAN – Suara MahardikaKabupa ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:20
Calon Mahasiswa Baru PPLP Mapindo Tabanan Baksos di Pura Pakendungan
Masih Terima Mahasiswa Baru Hingga Akhir Agustus 82 calon mahasiswa baru PPLP Mapindo Tabana ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:10
Tradisi Yeh Dangdangan Di Belayu
Diyakini Mampu Sembuhkan Berbagai Jenis Penyakit Kulit Kabupaten Tabanan menyimpan berbagai t ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:06
Manajemen DTW Tanah Lot Siapkan Diri Buka Malam
Manajer DTW Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana TABANAN – Suara MahardikaPemerintah Kabupat ...
Tabanan, 02 Agustus 2017 08:25
Naik Motor, Bupati Eka Tinjau Jalan Program TMMD ke-99 di Jelijih Punggang
Bupati Eka sesaat sebelum meninjau jalan karya TMMD ke-99 TABANAN, Suara Mahardika- Bupati Ta ...
, 02 Agustus 2017 07:42
Mencicipi Lawar Kardus Ala Bank Sampah Prema Bali Lestari
Sekretaris Bank Sampah Prema Bali Lestari, I Gusti Putu Widarsa Lawar merupakan salah satu ku ...
, 02 Agustus 2017 07:14
Berspiritkan Ngayah, FKPPAI Bali Berkomitmen Lestarikan Taksu Bali
Jro Gede Budiasa, Ketua FKPPAI Bali Nama dan keberadaan sebuah organisasi bernuansa spiritual ...
, 01 Agustus 2017 10:55
Ketua DPRD Kudus Kunjungi Bali
Masan saat sowan kekediaman sesepuh PDIP Bali, Cok Rat Cok Rat Dukung Nyabup, Gus Marhaen Had ...
, 06 Maret 2017 05:36
Kembali Menjadi Ketua MMDP Tabanan, Tontra Selesaikan PR yang Tertunda
Dalam loka sabha Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Tabanan belum lama ini, Drs. I Waya ...
, 06 Maret 2017 05:33
Ketika Jalan Raya Menjadi Ajang Liar Siswa
Pelajar di Tabanan berlalu lintas tanpa helm Beberapa dekade silam, masyarakat Tabanan dikena ...


Berita Lainnya :

Tabanan, 04 Agustus 2017 08:29
Tabanan Mendulang Prestasi
Kembali Raih Adipura, Bupati Eka Dinobatkan Sebagai KDI TABANAN – Suara MahardikaKabupa ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:20
Calon Mahasiswa Baru PPLP Mapindo Tabanan Baksos di Pura Pakendungan
Masih Terima Mahasiswa Baru Hingga Akhir Agustus 82 calon mahasiswa baru PPLP Mapindo Tabana ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:10
Tradisi Yeh Dangdangan Di Belayu
Diyakini Mampu Sembuhkan Berbagai Jenis Penyakit Kulit Kabupaten Tabanan menyimpan berbagai t ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:06
Manajemen DTW Tanah Lot Siapkan Diri Buka Malam
Manajer DTW Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana TABANAN – Suara MahardikaPemerintah Kabupat ...
Tabanan, 02 Agustus 2017 08:25
Naik Motor, Bupati Eka Tinjau Jalan Program TMMD ke-99 di Jelijih Punggang
Bupati Eka sesaat sebelum meninjau jalan karya TMMD ke-99 TABANAN, Suara Mahardika- Bupati Ta ...
, 02 Agustus 2017 07:42
Mencicipi Lawar Kardus Ala Bank Sampah Prema Bali Lestari
Sekretaris Bank Sampah Prema Bali Lestari, I Gusti Putu Widarsa Lawar merupakan salah satu ku ...
, 02 Agustus 2017 07:14
Berspiritkan Ngayah, FKPPAI Bali Berkomitmen Lestarikan Taksu Bali
Jro Gede Budiasa, Ketua FKPPAI Bali Nama dan keberadaan sebuah organisasi bernuansa spiritual ...
, 01 Agustus 2017 10:55
Ketua DPRD Kudus Kunjungi Bali
Masan saat sowan kekediaman sesepuh PDIP Bali, Cok Rat Cok Rat Dukung Nyabup, Gus Marhaen Had ...
, 06 Maret 2017 05:36
Kembali Menjadi Ketua MMDP Tabanan, Tontra Selesaikan PR yang Tertunda
Dalam loka sabha Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Tabanan belum lama ini, Drs. I Waya ...
, 06 Maret 2017 05:33
Ketika Jalan Raya Menjadi Ajang Liar Siswa
Pelajar di Tabanan berlalu lintas tanpa helm Beberapa dekade silam, masyarakat Tabanan dikena ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :