Logo

UPDATE
  • Suara Mahardika - Membangun keseimbangan informasi antara desa-kota di Bali - www.suaramahardika.com - arthadana99@gmail.com
  • Inspiratif, Berkesadaran, Berbudaya dan mengedepankan informasi yang bersifat independen, inspirasi positif dan berlandaskan nilai-nilai budaya Bali.


Musim Hujan, Gorong Gorong dan Surutnya Semangat Gotong Royong

Oleh : Suara Mahardika | 29 November 2016 | Dibaca : 956 Pengunjung

Musim Hujan, Gorong Gorong dan Surutnya Semangat Gotong Royong

Foto : Penulis bersama salah satu putranya (dok.pribadi)

Foto : Penulis bersama salah satu putranya (dok.pribadi)

Penulis: Ngurah Arthadana

Apakah zaman yang semakin tua, ketika peradaban manusia semakin moderen dan teknologi yang semakin canggih menjadikan manusia justru sedang "bunuh diri" karena meninggalkan sisi-sisi yang sederhana dari hidup dan berkehidupannya?

Sengaja penulis melontarkan pertanyaan tadi. Maaf bukan untuk mengajak pembaca merenung (bukankah diam merenung adalah bahasa lain dari kemalasan?), namun lebih terhadap upaya "memprovokasi" pembaca untuk segera "pulang", kepada nilai-nilai kesederhanaan hidup dan berkehidupan tadi. Lalu apa kaitannya pulang kepada nilai-nilai kesederhanaan hidup dan berkehidupan dengan judul tulisan yang ditawarkan penulis diatas, yakni "Musim Hujan, Gorong-gorong dan Surutnya Semangat Gotong Royong?"

Begini, musim penghujan kali ini tetaplah layak disyukuri. Guyuran hujan ternyata sangat penting bagi kelangsungan mahluk hidup di bumi, termasuk manusia. Disekitar tempat tinggal penulis di Bumi Lumbung Beras (Tabanan), anugerah hujan adalah paica mautama bagi petani. Bahkan sehubungan dengan hujan, justru para petani Tabanan dengan organisasi subak dan unsur pemerintahan di Tabanan pada saat kemarau berkepanjangan beberapa tahun lalu menjadi sangat gigih memohon hujan. Dan ditengah gempuran pongah pawang hujan berteknologi (laser) demi memuluskan aktivitas-aktivitas moderenisasinya (baca: menumpuk rejeki), "wong tani keleh" yang bhakti kepada pertiwi bersama unsur pemerintah justu gigih menghaturkan yadnya yang bertujuan memohon hujan. Seperti ngaturang pakelem, magpag toya maupun ritual lainnya.

Berkaitan dengan memohon hujan, pembaca mungkin terbayang dengan kisah ketika Krisna dan penduduk ditempat kelahiranNya mengadakan sebuah ritual di Bukit Govardan. Ini menandakan datangnya hujan bukanlah hanya urusan Sang Maha Kawi semata. Manusia juga perlu melakukan upaya dan tindakan nyata atau berdialog dengan alam semesta. Setidaknya dengan cara menjaga keharmonisan "komunikasi" dengan Sang Maha Kawi itu sendiri. Salah satunya dengan meniru cara petani Tabanan yang memohon hujan dengan menggelar ritual-ritual tadi. Selain juga menjaga keharmonisan dengan alam semesta sebagai ibu kehidupan manusia.

Hingga, belakangan ini tibalah pesta pora alir air atas nama hujan tersebut. Kini, di Tabanan ataupun kabupaten/ kota lainnya di Bali, termasuk diberbagai daerah lainnya di bumi nusantara ini, hampir setiap harinya didatangi hujan. Sebuah syukur layak dihaturkan atas kemahamurahan Sang Maha Kawi yang telah berkenan memberikan anugerah penyambung hidup bagi semua mahluk hidup. Penyambung hidup yang berupa air hujan tersebut.

Diantara rutinitas datangnya hujan pada bulan-bulan ini, penulis melihat ada sebuah fenomena mengkhatirkan terhadap dampak dari musim hujan kali ini maupun dampak musim hujan pada beberapa musim hujan sebelumnya. Kekhawatiran tersebut bermula dari pandangan penulis yang melihat adanya kecendrungan masyarakat yang tidak siap terhadap tibanya anugerah hujan. Bagi penulis, ketidaksiapan ini justru berpeluang menjadikan anugerah hujan menjadi sebuah musibah (di Jakarta dan beberapa daerah lainnya hujan menjadi musibah sudah teramat sering terjadi. Mari berkaca pada Jakarta).

Dalam pandangan penulis, ketidaksiapan masyarakat, termasuk pula masyarakat Tabanan dan Bali dalam menyambut anugerah hujan tersebut terlihat dari hal yang sangat sederhana. Yakni gorong-gorong atau got atau sebutlah cicitnya sungai. Entah karena super sibuk atau konsepsi Tri Hita Karana hanya sakti mandraguna dalam tataran konsep semata dan bagian Palemahan (hubungan manusia dengan alam lingkungannya) benar-benar lemah, gorong-gorong pun akhirnya menjadi potret nyata dari kesombongan prilaku manusia moderen. Tumpukan sampah yang semestinya menumpuk di TPA dan bisa diolah menjadi pupuk organik atau didaur ulang justru tengah menyiapkan ancaman besar bagi manusia itu sendiri.

Terkait hal tersebut, penulis sudah cukup akrab melihat beberapa ruas jalan di Tabanan kebanjiran, meskipun hujan yang turun dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Penyebabnya, tentu saja karena got atau gorong-gorong sekarang tidak hanya berfungsi sebagai saluran air, tetapi juga difungsikan sebagai tempat sampah. Hujanpun kini sering kali mendatangkan sumpah serapah, karena sampah di got atau gorong-gorong tersebut mendatangkan musibah banjir atau sangat mungkin ancaman penyakit. Seperti demam berdarah yang dimungkinkan terjadi karena gorong-gorong yang telah berfungsi ganda juga menjadi kawasan pemukiman nyaman bagi para nyamuk yang kemudian berkonstribusi banyak dalam menularkan berbagai penyakit bagi manusia.

Cara melawannya, gorong-gorong harus diberikan fungsi kemanusiaan. Sehubungan dengan ini penulis masih teringat dengan rutinitas penulis bersama krama banjar penulis puluhan tahun silam. Saat itu, setidaknya sebulan sekali krama banjar turun ke banjar membawa senjata tajam berupa sabit atau cangkul. Berbekal senjata tersebut, krama banjar kompak menyerang gorong-gorong dalam semangat gotong royong. Tidak lebih dari dua jam kemudian, gorong-gorong pun bersih dan ketika musim hujan tiba, mencari setitik tempat yang kebanjiran dilingkungan banjar susahnya, sesusah mencari buah durian di sawah yang padinya sedang menguning.

Dalam gotong royong membersihkan gorong-gorong puluhan tahun silam itu, ternyata tidak hanya menjadikan gorong-gorong bersih dan siap menanti deras alir air. Lebih dari itu, komunikasi antar krama semakin terjalin dan semangat menyama braya semakin mengakar. Nah, apakah masih malu mengaku kalau gotong royong itu ternyata sebuah sikap hidup yang sederhana namun memungkinkan berujung pada hal-hal luar biasa? Maka, rajutlah kembali semangat gotong royong itu, meskipun dengan cara yang sangat sederhana, yang salah satunya melalui membersihkan gorong-gorong.

Penulis: bekerja sebagai juru warta yang bebas merdeka. Sedang menempuh "kuliah" di World University, Program Studi Memaknai Anugerah Hidup, Jurusan Penyadaran Diri. Tinggal di Tabanan.


Oleh : Suara Mahardika | 29 November 2016 | Dibaca : 956 Pengunjung


TAGS : tabanan




Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Tabanan, 04 Agustus 2017 08:29
Tabanan Mendulang Prestasi
Kembali Raih Adipura, Bupati Eka Dinobatkan Sebagai KDI TABANAN – Suara MahardikaKabupa ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:20
Calon Mahasiswa Baru PPLP Mapindo Tabanan Baksos di Pura Pakendungan
Masih Terima Mahasiswa Baru Hingga Akhir Agustus 82 calon mahasiswa baru PPLP Mapindo Tabana ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:10
Tradisi Yeh Dangdangan Di Belayu
Diyakini Mampu Sembuhkan Berbagai Jenis Penyakit Kulit Kabupaten Tabanan menyimpan berbagai t ...
Tabanan, 04 Agustus 2017 08:06
Manajemen DTW Tanah Lot Siapkan Diri Buka Malam
Manajer DTW Tanah Lot, I Ketut Toya Adnyana TABANAN – Suara MahardikaPemerintah Kabupat ...
Tabanan, 02 Agustus 2017 08:25
Naik Motor, Bupati Eka Tinjau Jalan Program TMMD ke-99 di Jelijih Punggang
Bupati Eka sesaat sebelum meninjau jalan karya TMMD ke-99 TABANAN, Suara Mahardika- Bupati Ta ...
, 02 Agustus 2017 07:42
Mencicipi Lawar Kardus Ala Bank Sampah Prema Bali Lestari
Sekretaris Bank Sampah Prema Bali Lestari, I Gusti Putu Widarsa Lawar merupakan salah satu ku ...
, 02 Agustus 2017 07:14
Berspiritkan Ngayah, FKPPAI Bali Berkomitmen Lestarikan Taksu Bali
Jro Gede Budiasa, Ketua FKPPAI Bali Nama dan keberadaan sebuah organisasi bernuansa spiritual ...
, 01 Agustus 2017 10:55
Ketua DPRD Kudus Kunjungi Bali
Masan saat sowan kekediaman sesepuh PDIP Bali, Cok Rat Cok Rat Dukung Nyabup, Gus Marhaen Had ...
, 06 Maret 2017 05:36
Kembali Menjadi Ketua MMDP Tabanan, Tontra Selesaikan PR yang Tertunda
Dalam loka sabha Majelis Madya Desa Pakraman (MMDP) Kabupaten Tabanan belum lama ini, Drs. I Waya ...
, 06 Maret 2017 05:33
Ketika Jalan Raya Menjadi Ajang Liar Siswa
Pelajar di Tabanan berlalu lintas tanpa helm Beberapa dekade silam, masyarakat Tabanan dikena ...

Lihat Arsip Berita Lainnya :